Thursday, October 2, 2014
Headlines
Home » Body & Mind » Vasektomi; Proses, Jenis dan Efek Samping
Vasektomi;  Proses, Jenis dan Efek Samping

Vasektomi; Proses, Jenis dan Efek Samping

Orang sering mendiskusikan vasektomi, dan sering dibahas berdampingan dengan tubektomi. Tubektomi (untuk wanita) dan vasektomi (untuk pria) merupakan istilah untuk metode kontrasepsi yang sifatnya permanen. Permanen untuk tidak lagi memiliki keturunan.

MEasiaMagazine.net – Proses pembatasan memiliki anak, atau disebut dengan kontrasepsi memang beragam caranya. Bisa dilakukan oleh wanita, melalui minum pil KB, pasang spiral, penggunaan kondom vagina, maupun tubektomi. Sementara bagi para pria yang umum dilakukan adalah penggunaan kondom dan vasektomi. Tubektomi dan vasektomi sendiri sifatnya permanen, artinya begitu seorang wanita melakukan tubektomi, dia tidak akan lagi pernah memiliki anak. Demikian juga vasektomi, apabila seorang pria melakukan proses ini, maka dia tidak akan pernah mendapatkan keturunan lagi.

Yang menarik dari sisi sejarah, vasektomi  pertamakali tercatat dilakukan pada tahun 1823 di London. Namun baru resmi digunakan sebagai sarana kontrol pertumbuhan penduduk, sarana Keluarga Berencana (KB), pada tahun 1954 di India.  Dalam perkembangan selanjutnya juga terdapat gambaran bahwa rata-rata pria yang sudah menikah di New Zaeland, Canada, Inggris, Bhutan dan Belanda, melakukan proses vasektomi sebagai bentuk tanggung jawab mereka untuk aktif mengkontrol jumlah anak dalam keluarga mereka.

Proses Vasektomi
Vasektomi dilakukan untuk menghalangi proses transport spermatozoa/sperma (sel mani) di pipa-pipa sel mani pria (saluran mani pria). Sehingga dalam prosesnnya, vasektomi merupakan operasi kecil dan ringan dengan pembiusan lokal di wilayah kanan kiri kantong zakar (kantung buah pelir) atau scrotum. Dari sini tampak jelas bahwa proses vasektomi samasekali tidak mempengaruhi kemampuan kejantanan, ereksi maupun ejakulasi seorang pria. Karena tetap setelah proses vasektomi, pria masih bisa tetap ejakulasi dan memancarkan air mani.

Ketika seorang pria ejakulasi, maka yang keluar dari penisnya adalah semen (air mani) yang merupakan percampuran antara sperma dan cairan seminal yang dihasilkan oleh prostat, dalam bentuk agak kental dan berwarna. Percampuran semen ini berisikan 1% sperma, dan 99% cairan seminal. Proses vasektomi ini menghalangi datangnya sperma ke dalam cairan semen. Jadi setelah proses vasektomi, kemampuan ejakulasi tidak berpengaruh samasekali, karena hanya jumlah 1 persen spermanya yang berubah, dan ini hanya bisa dianalisa di bawah mikroskop. Sperma yang memiliki kadar protein ini,  yang tidak dikeluarkan tersebut kemudian secara otomatis diolah sendiri dalam tubuhnya. Inilah yang kemudian disugesti oleh para pria yang sudah melakukan vasektomi, bahwa dirinya makin sehat, berkecukupan protein, dan makin perkasa.

Jenis Vasektomi
Ada dua jenis vasektomi yang secara umum dilakukan di dunia kedokteran. Yang pertama dengan metode konvensional atau tradisional (menggunakan pisau bedah), dan yang kedua dengan metode tanpa pisau bedah “No Scalpel Vasectomy”.Metode yang pertama, yakni metode konvensional dengan menggunakan pisau bedah, menggunakan bius lokal, titik saluran vas, sebagai jalan dari sperma, akan sedikit disayat di masing-masing testis, untuk mengeluarkan saluran vas yang kemudian di potong saluran vas tersebut, diikat dan dilakukan penjahitan dari bekas luka sayat kecil tadi. Prosesnya antara 30-45 menit.

Sementara metode yang kedua adalah  metode tanpa pisau bedah, yang sejak awal tahun 1970-an ditemukan oleh dunia kedokteran di China, oleh Dr. Li Shunqiang. Prosedur kedua ini kemudian mendunia, dan di adopsi oleh berbagai negara Barat dan diakui sebagai proses yang lebih nyaman, cepat, dan mudah bagi para pria. Dalam proses ini, setelah bius lokal, titik vas akan diangkat menggunakan jarum suntik, sebagai jalan pembuka kulit yang menutupi area saluran vas tersebut. Prosesnya hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 30 menit, dan tidak membutuhkan jahitan, karena hampir tidak ada sayatan di kulit.

Pada kedua proses itu, baik yang konvensional maupun “No Scalpel Vasectomy”, biasanya saluran vas hanya dipotong dan diikat, namun dalam perkembangannya ada yang menggunakan tambahan klip (clip vasectomy), maupun menggunakan sinar laser (laser vasectomy). Kedua sarana ini dipercaya oleh beberapa pihak mampu mengurangi  efek rasa nyeri dan pendarahan pada saat proses vasektomi. Selain itu kedua sarana tersebut juga diyakini memberikan jaminan tidak terjadinya kebocoran saluran sperma, yang bila terjadi maka kehamilan akan tetap terjadi pada pasangan pria tersebut. Tentu saja kedua sarana ini bisa digunakan salah satunya, dan dengan menambah biaya operasi. Meskipun sesungguhnya proses vasektomi itu sendiri secara umum relatif tidak menimbulkan pendarahan.

Efek Samping
Dalam berbagai jurnal ilmiah kedokteran, dan berbagai penelitian yang dilakukan di berbagai negara, tidak ditemukan efek samping yang serius dalam proses vasektomi ini. Pun secara umum digambarkan bahwa vasektomi dianggap gagal apabila ternyata si pria yang sudah divasektomi tetap bisa menghamili pasangannya.

Untuk itu biasanya setelah seorang pria melakukan vasektomi, dia harus “berpuasa” dari hubungan seks dulu selama 2-4 minggu. Lamanya waktu bergantung dari cepatnya luka bekas vasektomi, dan juga dari kemungkinan masih ada sisa sperman yang bertahan di saluran vas. Beberapa pria yang produk spermanya sangat tinggi, malah kemungkinan harus lebih lama lagi untuk menunggu ijin diperbolehkan berhubungan badan dengan pasangannya.

Meski urusan efek samping secara medis hampir tidak ada, namun masing-masing kondisi tubuh pria tetaplah membutuhkan penanganan yang berbeda. Biasanya sebelum operasi dalam kurun waktu 7-10 hari, pria yang sedang persiapan vasektomi dilarang untuk minum obat-obat sejenis aspirin, coumadin, Plavix®, Ticlid®, atau NSAIDs (sejenis ibuprofen, sseperti Advil® atau Motrin). Obat-obatan jenis itu dianggap memperlancar darah, dan bisa menyebabkan terjadinya pendarahan. Selain itu setelah operasi biasanya harus menghindari bekas vasektomi terkena air, atau tergesek celana dalam. Untuk itu harus diperhatikan pemilihan celana dalam yang longgar dan nyaman.

Yang menarik justru efek samping yang berkaitan dengan “kejantanan”, dari berbagai komentar para pasien. Meski dari sisi dunia kedokteran tidak ditemukan hubungannya secara langsung, namun dari sisi psikologis didapatkan kemungkinan hubungan. Yakni secara psikologis pria yang sudah divasektomi, tidak lagi merasa harus berhati-hati akan menghamili pasangannya. Beban psikologisnya untuk harus “bertanggung jawab” kalau pasangannya hamil lagi akan hilang, dan ini menambah perasaan nyaman, rileks, dan makin enjoy menikmati hubungan seksual.  [ME]Lestari N

14,309 total views, 13 views today

About MEasia

MEasia
Copyright©2000 MEasia Magazine, All Rights Reserved. - Hak Cipta Dilindungi Undang-undang.Dilarang melakukan reproduksi foto dan kutipan tulisan, sebagian atau seluruh isi ME, kecuali seijin penerbit. Redaksi berhak menyunting tulisan & foto dari kontributor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>